Powered By Blogger

Senin, 20 Mei 2013

Hidup Sebenarnya Dalam Pendakian Gunung

       Pendakian gunung adalah belajar dan merasakan hidup yang sebenarnya. Mengapa? Kesuksesan dan kelangsungan hidup akan mudah kita temui dalam suasana pendakian gunung di alam terbuka. Mendaki gunung bukan semata aktifitas fisik atau olahraga yang memerlukan fisik yang prima dan keterampilan, jauh di dalamnya ada banyak sekali pelajaran bagi para pelakunya.


       Mendaki mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah bagaimana meraih kesuksesan, mendaki gunung, tiba di puncak dan kembali dengan selamat. Sukses tidak terjadi begitu saja, semua ada prosesnya, sama seperti kita mendaki gunung.

        Dimulai dari perencanaan yang matang, melakukan riset, menentukan langkah – langkah terbaik, dan mempersiapkan diri. Di tahap ini kita tidak pernah sendirian, selalu ada sahabat yang memberikan pendapat, selalu ada pioneer yang bisa kita contoh.

        Ketika dirasa siap kita mulai melangkah. Menundukkan kepala dan hati, memohon restu kepada yang Kuasa, berjalan langkah demi langkah mengikuti rencana yang telah disusun. Ada gunung yang dapat didaki beberapa jam saja, ada pula yang perlu waktu berhari – hari hingga berminggu – minggu, semua ada masanya.

       Bersiaplah menghadapi berbagai kejutan di perjalanan, mungkin cuaca yang memburuk, rekan seperjalanan yang berbeda pendapat atau rencana yang tak berjalan semestinya. Jangan panik, hadapi dengan tenang, kepala dingin dan keyakinan akan takdir yang Kuasa. 

       Ketika puncak dicapai akan ada kebahagiaan yang luar biasa. Duduklah sejenak menikmati pemandangan indah di bawah sana, bersyukurlah dan janganlah terlena. Sisakan bekal untuk perjalanan berikutnya.

       Tantangan tersulit telah menanti, turun gunung dan kembali dengan selamat. Berjalanlah pelan menuju kaki gunung, kembali ke asal. Berhati – hati, ikuti jalur yang ada, jangan mudah tergoda, dan tetaplah bersama teman perjalanan kita.

       Sungguh seperti itulah kehidupan. Sukses itu kerja keras, sukses itu bekerja sama, dan sukses itu rendah hati. Seperti orang bijak berkata : Destination is nothing, journey is everything. Sukses itu bukan segalanya, usaha untuk meraih sukses itu yang lebih penting.


Ditranslasi dari :

Minggu, 19 Mei 2013

Katanya, Suami Ideal Adalah Pendaki Gunung?

       Membawa beban dipunggung puluhan kilogram, tak pernah menyerah pada cuaca buruk, bertanggung jawab pada teman seperjalanan, bisa memasak dan selalu menerima dalam keadaan terburuk sekalipun. Mungkin tak terlalu berlebihan jika hal - hal itu dinobatkan pada para pendaki yang kebanyakan di dominasi oleh para pria.  



       Jika semua itu diterapkan dalam kehidupan sehari - hari atau bahkan kehidupan berumah tangga. Maka pantas mereka mendapat predikat “suami ideal adalah pendaki gunung”.Jika kita gambarkan satu persatu. 

       Membawa tas ransel besar ( carrier ) dengan isi belasan atau bahkan puluhan kilogram ibaratkan satu keluarga yang dipikul pada pundak seorang pria menuju puncak. Tas itu merupakan nyawa, hidup dan amanah yang tidak boleh lepas dari punggungnya.

       Dengan susah payah tas itu dibawa menuju puncak melewati jalan setapak yang curam menanjak. Belum lagi ketika cuaca tidak bersahabat, hujan badai, kabut tebal, dingin yang menusuk. Menjadi cobaan tersendiri bagi mereka, hanya kesabaran, keikhlasan dan semangat tak kenal lelah yang menjadi modal utama.

       Suatu pendakian umumnya dilakukan oleh beberapa orang dan mereka saling bertanggung jawab satu sama lain.Jika salah satu cidera atau menurun kesehatannya, pasti mereka akan membackup dan merawatnya dengan sabar.

       Ketika waktu makan tiba pasti semuanya sibuk menyiapkan masakan yang akan dihidangkan, kadang menunya pun tak pernah ada di restoran manapun. Mereka adalah chef hasil didikan alam. Tidur beralaskan matras yang jauh dari kata empuk, dinginnya cuaca pegungungan, berhimpit - himpitan dengan teman setenda, belum lagi jika ada salah satu yang kentut atau mendengkur. Tidak jadi masalah bagi mereka, bahkan hal itu dianggap cerita untuk anak cucu mereka nanti.

       Selalu dengan tawa dan senyuman mereka menikmatinya.Kepuasan wajah mereka akan terlihat jika telah menapaki puncak yang jadi tujuannya. Tak ada yang bisa menggantikan itu dalam hidup mereka, rasa sakit, lelah dan hampir putus asa akan hilang ketika melihat matahari sebagai awal baru datang di ufuk timur. Jadi ..... untuk para wanita, berminatkah mencari suami ideal seorang pendaki???


Ditranslasi dari :

Jumat, 23 November 2012

Rafflesia Dan Bunga Bangkai Ternyata Berbeda

       Rafflesia dan bunga bangkai, entah sadar atau tidak, selama ini dianggap satu jenis. Ternyata keduanya merupakan bunga yang berbeda! Baik bentuk maupun jenisnya. Kedua bunga tersebut sangat populer di Kebun Raya Bogor. Silahkan kunjungi tempat tersebut, di sana ada dua jenis bunga bangkai, yakni Rafflesia dan Amorphophalus titanium. 


Amorphopallus titanium

"Dua bunga ini beda dari bentuk, ukuran dan jenis," ucap Kepala Kebun Raya Bogor, Mustaid Siregar dalam konfrensi pers menjelang mekarnya bunga bangkai Amorphophallus titanum di Kebun Raya Bogor.

Kamis, 22 November 2012

Lima Taman Bumi Indonesia Diusulkan ke UNESCO

        Indonesia memiliki lima taman Bumi yang diusulkan ke UNESCO. Lima taman Bumi milik Indonesia ini tentu nantinya akan mendongkrak dari segi wisata tanah air setelah di syahkan sebagai Geopark dunia atau anggota jaringan global taman Bumi.

       Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sukhyar menyampaikan hal itu dalam upacara peresmian Gunung Batur sebagai anggota jaringan global taman Bumi, Sabtu 17 November 2012, di Kabupaten Bangli, Bali.

Selasa, 20 November 2012

Pendakian Massal Dan Rusaknya Ekosistem Di Semeru

       Pendakian massal, salah satu model pendakian yang melibatkan banyak orang pendaki dalam satu gunung. Biasanya diadakan oleh sebuah organisasi Adventure tertentu dengan berbagai alasan. Alasan utama adalah mengangkat citra sebuah induk organisasi atau komunitas. Seperti biasanya, pendakian massal atau Penmas akan di bumbui dengan acara bersih gunung, penanaman pohon dll.

   
        Demikian juga yang baru - baru ini di adakan, yakni Pendakian Massal di Gunung Semeru pada tanggal 15 - 18 November 2012 yang melibatkan kurang lebih 1.988 pendaki se Indonesia dari berbagai kalangan dan kelompok penyuka kegiatan pendakian gunung dan mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( TNBTS ).

Senin, 17 September 2012

Perlengkapan Perjalanan Atau Pendakian

PERLENGKAPAN PERJALANAN
Terdiri dari :
1. Perlengkapan Dasar
2. Perlengkapan Tambahan
3. Perlengkapan Khusus

PERLENGKAPAN DASAR, diantaranya adalah : sepatu, kaos kaki, celana dan pakaian jalan, jas hujan / rain coat, topi lapangan, sarung tangan, ikat pinggang, rucksack / carrier / ransel, kantung tidur / sleeping bag, matras / alas tidur, peralatan navigasi, senter, peluit dan pisau.
Dalam memilih perlengkapan dasar, hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

Perjalanan Atau Pendakian

       Mendaki gunung adalah suatu olah raga keras, penuh petualangan dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan serta daya juang yang tinggi. Bahaya dan tantangan merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri.
       Di Indonesia, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejak tahun 1964 ketika pendaki Indonesia dan Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan dan berhasil mencapai puncak Soekarno di pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya (sekarang Papua). Mereka adalah Soedarto dan Soegirin dari Indonesia, serta Fred Atabe dari Jepang. Pada tahun yang sama, perkumpulan-perkumpulan pendaki gunung mulai lahir, dimulai dengan berdirinya perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung WANADRI di Bandung dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) di Jakarta, diikuti kemudian oleh perkumpulan-perkumpulan lainnya di berbagai kota di Indonesia.